Hidup Harus Fleksibel, Makan Mi Instan Masih Boleh

Posted on

Hidup Harus Fleksibel, Makan Mi Instan Masih Boleh

Sedang merealisasikan pola hidup sehat bukan berarti tidak boleh mencicipi semangkuk mi instan. Bila tahu aturan dan takaran, seporsi mi rebus atau goreng tidak bakal merusak ‘diet’.

“Ini pun sering ditanyakan pasien saya,’mi instan tersebut beneran enggak boleh, ya?’,” kata dokter spesialis gizi klinis, Diana Suganda MKes dalam sebuah peluang belum lama ini.

Berdasarkan keterangan dari www.faunadanflora.com/ Diana, anda harus hidup fleksibel. Misal di satu lokasi memang tidak makanan beda dan melulu ada mi instan, masa mesti anda tahan?

“Kita mesti lihat konsekuensi di dalamnya. Tinggi natrium, garamnya paling tinggi, dan kalorinya pun tinggi,” kata Diana.

“Kalau paling terpaksa, ini bukan rekomendasi saya, ya, dapat kita akali,” Diana menambahkan.

Mengakali Mi Instan Biar Sehat

Mi instan yang biasanya dinilai tidak sehat dapat diakali supaya menjadi ‘sehat’ dengan teknik air rebusannya dilemparkan lalu ganti dengan yang bersih, lantas tambahkan protein laksana ayam suir dan telur.

“Mi tersebut baru karbohidratnya. Terus tambahkan pun sayuran, tomat potong atau sawi,” kata Diana.

Dalam peluang itu, Chef Steby Rafael, menyarankan supaya menggati teknik penyajian mi instan biar ‘terasa sehat’. Bisa diubah menjadi pancake, dengan gabungan bahan telur yang agak lebih tidak sedikit dan bayam.

Untuk kuahnya, Steby mengatakan dapat menggantikan gabungan MSG dengan kaldu produksi sendiri.

“Kuah kaldu stok yang banyak, masukin kantong zip diciptakan kecil-kecil saja per porsi. Masukkan freezer, bekukan, bila mau santap engga usah buat dari mula lagi, bermukim masukkan panci yang telah dibekukan itu,” sarannya.

Jangan Setiap Saat

Meski begitu, Diana dan Steby tidak menyarankan untuk mengonsumsi mi instan masing-masing saat. Jangan mentang-mentang telah ‘sehat’, konsumsinya jadi lebih sering. “Jarang-jarang, contoh sebulan sekali,” kata Diana.

Sumber : www.bukumedis.com/